Minoritas Muslim di Eropa Barat : Jerman dan Austria

Minoritas Muslim di Eropa Barat : Jerman dan Austria

Dewasa ini, minoritas muslim yang terjadi di berbagai belahan dunia mulai ramai dibicarakan oleh para cendekiawan. Beberapa faktor yang membuat kaum muslim di beberapa wilayah menjadi minoritas di antaranya, yaitu adanya proses regionalisasi, konversi, maupun migrasi. 

Islam di Jerman 
Islam di Jerman sudah dikenal sejak zaman khalifah Harun al-Rasyid pada abad ke-8. Dalam kisah “1001 malam” dikatakan bahwa khalifah al-Rasyid telah mengembara di jalan-jalan Baghdad pada malam hari dengan berpakaian pedagang untuk belajar tentang kehidupan rakyatnya. Berbagai sumber menyebutkan bahwa Charlemagne, pemimpin suku Germanic tengah menjalin hubungan diplomatik dengan penguasa Abbasiyah pada tahun 797. Kedua belah pihak diketahui menjamin kebebasan beragama di kerajaan masing-masing. Meskipun demikian, keberadaan agama Islam di Jerman baru mulai pada abad ke-17 M. Sejarah Islam di Jerman tak lepas dari hubungan Jerman dan Turki. Pada tahun 1683 terjadi pengepungan Wina yang dilakukan oleh Pasukan Ottoman terhadap tentara Austria dan Polandia. Pengepungan ini berakhir dengan kekalahan pasukan Ottoman, atas kekalahan ini banyak pasukan Ottoman yang beragama Islam ditawan dan kemudian dikirim ke Jerman. Inilah yang menjadi cikal bakal keberadaan Islam di Jerman.

Perkembangan Islam di Jerman kemudian berlanjut saat terjadi perang antara Rusia dengan Turki pada 1735-1739. Konflik ini didasari atas keinginan Rusia untuk memperluas wilayah ke Laut Hitam. Akibat perang ini, tawanan muslim pun bertambah. Pada 1739 sebanyak 22 orang Turki diizinkan bergabung oleh bangsawan dengan Prusia. Begitupun dengan muslim Tartar dan Bosnia, pada 1741 turut bergabung dengan Prusia. Ketika hubungan antara Prusia dan Ottoman membaik, Jerman membuka peluang bagi sejumlah muslim untuk tinggal disana. Salah satunya adalah perwakilan diplomatik Ottoman yang tinggal di Jerman sejak 1763, ketika perwakilan diplomat ini meninggal pada 1798, Raja Friedrich Willhelm III membuat pemakaman untuknya yang terletak di Berlin. Pemakaman ini kemudian menjadi pemakaman Islam pertama di Jerman.

Hubungan Jerman dengan dunia Islam semakin kuat selama perang dunia I, ketika Jerman dan Usmani terlibat perang sebagai sekutu. Setelah perang, banyak tawanan Muslim yang dibebaskan oleh pasukan sekutu, dan lebih senang menetap di Jerman, terutama di Berlin. Kemudian disusul imigran dari Afghanistan dan Iran bergabung dengan mereka. Pasca perang dunia II, membawa gelombang baru orang-orang Muslim. Mereka berasal dari tawanan perang negara-negara komunis, terutama Uni Soviet yang meminta suaka di bagian Jerman Barat. Migrasi muslim ke wilayah ini meningkatkan popolasi muslim di Jerman Barat, sehingga pada tahun 1951, di Jerman Barat terdapat sekitar 20.000 muslim. Pada tahun 1966 jumlah muslim mulai menunjukkan angka yang signifikan, peningkatan ini terutama dikarenakan imigrasi pekerja-pekerja pendatang dari negara-negara muslim, terutama Turki.

Islam di Austria
Smail Balic menyatakan bukti pertama umat Islam di Austria berasal dari suku-suku nomaden dari Asia yang memasuki wilayah tersebut pada tahun 895. Setelah penaklukan Ottoman di kekaisaran Habsburg pada akhir abad ke-15, banyak muslim pindah ke wilayah ini. Kemudian setelah runtuhnya kekaisaran Austro-Hungaria (Setelah Perang Dunia 1) hanya sedikit muslim yang tersisa. Kemudian pada tahun 1943, sebuah asosiasi muslim mengakomodir migrasi muslim secara substansial ke Austria dimulai pada tahun 1960an saat Gastarbeiter dari Yugoslavia dan Turki pindah ke negara tersebut. pada tahun 2013, Austria memberikan status komunitas religius yang diakui kepada Alevisme. 

Populasi dan Demografi Muslim di Jerman dan Austria Tahun 2000-2017
Keberadaan muslim di Jerman meningkat pada tahun 1960-an, hal ini dikarenakan Jerman membutuhkan banyak tenaga kerja akibat hancurnya Jerman dalam PD II. Para pekerja berdatangan dari Italia, Turki dan Eropa Timur. Akibatnya, Berlin menjadi kota dengan jumlah komunitas Turki terbesar (63,2%) setelah Istanbul. Pada tahun 1971 jumlah muslim sekitar 1.150.000 orang (1,9% dari jumlah penduduk), di antaranya 900.000 orang Turki, 150.000 orang Yugoslavia dan Albania, 50.000 orang Afrika Utara, dan 50.000 orang muslim berasal dari berbagai etnik, yang di antaranya sekitar 20.000 Soviet Asia Tengah dan beberapa ribu dari Jerman. Sejak 1971 jumlah muslim terus meningkat sampai sekitar 1.800.000 muslim di tahun 1982 (2,9% dari penduduk). Peningkatan ini disebabkan terutama karena peningkatan alami, penambahan jumlah anggota keluarga.

Umat muslim dari Yugoslavia dan Iran pun berdatangan dan menetap di Jerman. Hal-hal tersebut membuat jumlah penduduk yang beragama Islam di Jerman mencapai lebih dari 2000.000 jiwa pada awal tahun 1990. Pada tahun 2006 jumlah muslim meningkat hingga 3,5 juta jiwa dan pada tahun 2010 meningkat 4.119.000 juta jiwa. Populasi muslim di Austria dari tahun ke tahun sebagai berikut:

Tahun

Populasi Muslim

Total Populasi

Persentase

1971

22,267

7.500.000

0.30%

1981

76,939

7.569.000

1.02%

1991

158,776

7.755.000

2.05%

2001

338,988

8.042.000

4.22%

2012

573,876

8.464.000

6.78%

2016

700,000

8.773.000

7.98%

Karakteristik Muslim di Jerman dan Austria
Perkembangan Islam di Jerman perlahan menunjukkan angka yang signifikan. Pasalnya sejak akhir abad ke-18, terdapat bangunan masjid. Pada tahun 1779, Jerman membangun masjid pertama dalam kompleks istana Schwetzingen, yang kemudian disusul oleh bangunan-bangunan masjid lainnya. Mayoritas muslim Jerman adalah orang Sunni (75%), Syiah (7%), Alawi, Ahmadi, Salafi, Ismaili, Zaidi, Ibadis dan Lahore Ahmadi. Terdapat organisasi Islam di Jerman, diantaranya Islamische Gemeinschaft in Deutschland, Ahmadiyya Muslim Jamaat Deutschland, dan Central Council of Muslim in Germany. Faktor utama terjadinya minoritas muslim di Jerman disebabkan minimnya penduduk asli Jerman yang muslim. Mayoritas penduduk Jerman beragama Katholik Protestan dan Katholik Roma, sedangkan muslim di Jerman didominasi oleh para imigran. 

Sementara itu, mayoritas muslim di Austria adalah warga Austria sedangkan muslim pendatang secara umum berasal dari Turki (21,2%), Bosnia (10,1%), Kosovar (6,7%), Montenegrin (6,7%), dan Serbia (6,7%). Hampir 216.345 muslim Austria (38%) tinggal di ibukota, Wina. Sekitar 30% muslim tinggal di negara bagian utara di luar wina dan jumlah yang sama (30%) tinggal di negara bagian selatan Austria. Survei pada tahun 2010 menyebutkan bahwa 10-20% muslim Austria adalah Alawi dan 300 Ahmadi. Kemudian, surveI pada bulan Agustus 2017 menyatakan bahwa di kalangan muslim Austria, 64% adalah Sunni dan 4% adalah Syiah.

Minoritas Muslim di Eropa Barat : Jerman dan Austria
Bentuk Diskriminasi di Jerman dan Austria
Pesatnya pertumbuhan komunitas muslim di jerman telah menyebabkan ketegangan sosial dan kontroversi politik, termasuk di dalamnya ekstremisme Islam dan kesulitan multikulturalisme. Pada tahun 2006 terdapat pelarangan pemakaian jilbab oleh guru sekolah maupun universitas. Dalam bidang pendidikan, pengajaran ilmu agama Islam sangat diawasi oleh pihak komunitas agama. Bentuk lain diskriminasi di Jerman terlihat pada kurang adanya infrastruktur keagamaan formal, masjid-masjid di Jerman memiliki peran yang sangat penting dalam pembinaan komunitas muslim. Masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah melainkan sebagai tempat pendidikan, pertemuan sosial keagamaan, maupun pusat bisnis. Oleh karena itu, banyak masjid yang memiliki bangunan tidak sebagaimana umumnya dan tidak sedikit masjid yang memiliki toko, restoran, perpustakaan, dan ruang pertemuan. Tuntutan kaum muslim untuk membangun masjid dalam bentuknya yang umum selalu kandas di tingkat parlemen setempat. Namun sejak tahun 1990-an banyak masjid yang utuh dan megah dibangun.

Dalam bidang politik, muslim di Jerman sangat dibatasi perannya. Kurangnya perwakilan muslim dalam politik pemerintahan menjadi kendala bagi kepentingan-kepentingan yang terkait umat Islam di Jerman. Adanya bentuk diskriminasi tersebut mendorong umat muslim lebih aktif lagi bersosialisasi di tengah masyarakat Jerman dan berpartisipasi di berbagai aspek kehidupan mulai dari sosial hingga politik. Muslim Jerman meyakini hanya dengan berperan aktif di tengah masyarakat, mereka bisa sedikit mengikis diskriminasi dan prasangka buruk terhadap Islam dan umat Islam.

Dalam bidang sosial, secara umum masyarakat Jerman sangat menghargai kebebasan beragama dan menerima keberagaman. Di dalam pidato Kanselir Angela Merkel menyerukan agar masyarakat Jerman menghormati warga muslim dan tata cara berpakaian para muslimah. Seruan itu terutama ditujukan pada sekolah-sekolah publik Jerman yang kerap meributkan masalah jilbab. Penerimaan Islam oleh masyarakat Jerman menunjukkan agama ini memberikan alternatif bagi pemecahan masalah kehidupan mereka. Islam tidak lagi diidentikkan sebagai agama para imigran melainkan agama yang terintegrasi dari kehidupan mereka sendiri. Integrasi Islam dan kultur mereka inilah yang akan membangun apa yang dikenal sebagai “Euro Islam”.

Bentuk diskriminasi muslim di Austria dapat dilihat dari MIPEX (Migrant Integration Policy Index), hambatan akses ke pasar tenaga kerja untuk imigran relatif rendah namun tingkat pengangguran lebih banyak dari kalangan muslim. Sekitar 40% orang muslim yang lahir di Austria meninggalkan sekolah sebelum usia 17 tahun. Pada bulan Oktober 2017, pemerintah Austria mengeluarkan sebuah undang-undang yang diberi nama “larangan penutupan wajah”. Undang-undang tersebut diperkenalkan oleh Kanselir Kristen. Siapapun yang mengenakan pakaian yang mengaburkan wajah mereka di depan umum dikenai denda €150. Banyak aktivis dan ahli melabeli hukum islamofobia dengan alasan bahwa mereka mendiskriminasi wanita muslim yang mengenakan kerudung wajah religius.

Minoritas Muslim di Eropa Barat : Jerman dan Austria
Tantangan dan Harapan Muslim di Jerman dan Austria
Tantangan muslim di Jerman banyak terjadi pada perbedaan waktu. Perbedaan waktu Jerman, terutama pada saat musim panas, di mana matahari bersinar sangat lama, bahkan adzan maghrib dimulai pukul 21.30 waktu Jerman dan adzan subuh dimulai pukul 03.00. Hal ini menjadi tantangan bagi muslim terutama pada waktu Ramadhan dengan minimnya waktu untuk berbuka dan sahur. Kemudian yang menjadi cobaan adalah waktu Isya’ yaitu sekitar pukul 23.00 hingga 23.30. Banyak muslim ketika Ramadhan tidak melaksanakan sholat tarawih, karena sudah terlalu malam. Sementara itu, tantangan berbeda dialami oleh muslim di Austria. Pada bulan Februari 2015, sebuah Islamgesetz (Hukum Islam) disahkan oleh parlemen Austria, yang melarang masuknya dana asing ke masjid-masjid dan membayar gaji para imam serta ajaran agama harus dipresentasikan kepada pihak berwenang dalam bahasa Jerman.

Muslim di Jerman pada dasarnya lebih menyuarakan penghapusan seluruh bentuk diskriminasi, sehingga dapat terwujud kehidupan yang penuh dengan toleransi keberagamaan. Selain itu, yang lebih meyakinkan lagi adanya pernyataan dari Kanselir Jerman, Angela Markel, yang menyatakan bahwa Islam merupakan bagaian dari Jerman.

Post a Comment for "Minoritas Muslim di Eropa Barat : Jerman dan Austria"