Tradisi Mubeng Benteng Keraton Yogyakarta sebagai Bentuk Penyambutan Tahun Baru Jawa

Tradisi Mubeng Benteng Keraton Yogyakarta sebagai Bentuk Penyambutan Tahun Baru Jawa

Manusia merupakan makhluk yang religius. Mereka menunjukkan bentuk ketakwaan dan cara menyampikan do'a sangat dipengaruhi oleh agama, budaya dan adat istiadat setempat. Dari sinilah muncul beragam cara yang dilakukan manusia dalam rangka membangun komunikasi dengan Tuhan secara lahir maupun bathin.

Tradisi Mubeng Benteng
Tradisi Mubeng Benteng merupakan salah satu tradisi yang ada di Keraton Yogyakarta. Sejak pertama kali dilakukan hingga sekarang, tradisi Mubeng Benteng selalu mendapat antusias lebih dari masyarakat, bahkan menjadi daya tarik bagi wisatawan lokal maupun mancanegara.

Siti Mar'atul Maula dalam skripsinya yang berjudul Motif Sosial Ritual Topo Bisu Mubeng Benteng 1 Syuro di Keraton Kota Yogyakarta menyebutkan bahwa, pada tahun 1919 masyarakat meminta Keraton Yogyakarta untuk melakukan upacara ritual berupa pengibaran bendera pusaka yang bernama Kanjeng Kiai Tunggal Wulung. 

Tujuan diadakan upacara tersebut untuk mencegah dan menghentikan wabah penyakit influenza yang saat itu melanda masyarakat Yogyakarta. Masyarakat sangat yakin akan keramatnya bendera pusaka tersebut, sehingga masyarakat beranggapan bahwa wabah dan penyakit influenza dapat segera sirna. 

Tata Pelaksanaan Tradisi Mubeng Benteng
Tradisi Mubeng Benteng dilakukan dengan beberapa rangkaian acara. Pada malam 1 Muharram atau 1 Suro masyarakat mempersiapkan diri dan berkumpul di Benteng Keraton pada pukul 20.00. Setelah itu masyarakat bersama dengan para abdi dalem dan keluarga Keraton membaca tahlil bersama-sama. Kemudian dilanjutkan dengan pembagian makanan atau berkat dan membaca tembang macapat hingga pukul 00.00. Selanjutnya, lonceng dibunyikan sebagai pertanda bahwa prosesi ritual Mubeng Benteng akan dimulai.

Rute ritual Mubeng Benteng dimulai dari melintasi jalan Kauman, jalan Agus Salim, jalan Wahid Hasyim sampai pojok benteng kulon. Kemudian dilanjutkan ke jalan Mayjen M.T. Haryono sampai pojok benteng wetan, jalan Brigjen Katamso, jalan Ibu Ruswo, Alun-alun utara, dan berakhir di Keraton. Jarak yang ditempul dari perjalanan tersebut sejauh 5 km. 

Arah perjalanan ritual Mubeng Benteng dimulai dari kiri ke kanan. Hal ini dimaksudkan sebagai simbol yang dalam bahasa Jawa, kiri yang diartikan kiwo atau ngiwakke mempunyai makna mengesampingkan hal-hal yang negatif. Sebab, ritual Mubeng Benteng ditujukan sebagai bentuk keprihatinan dan introspeksi diri dari segala perbuatan yang telah dilakukan setahun lalu dengan harapan tahun yang akan datang menjadi pribadi yang lebih baik. 

Post a Comment for "Tradisi Mubeng Benteng Keraton Yogyakarta sebagai Bentuk Penyambutan Tahun Baru Jawa"