Tradisi Ledug di Magetan
Di Indonesia, terdapat beragam perayaan dalam rangka menyambut tahun baru Islam. Di Magetan misalnya, masyarakat menggelar perayaan yang dikenal dengan istilah tradisi ledug. Ledug berasal dari kata lesung dan bedug, di mana kedua istilah ini menggambarkan perpaduan suara lesung dan bedug sebagai instrumen utama yang dimainkan bersama alat musik lainnya. Perpaduan alat musik ini digunakan untuk mengiringi berbagai macam lagu dan cerita-cerita jaman dulu.
Asal-Usul Ledug
Muhammad Hanif dalam penelitiannya yang berjudul Kesenian Ledug Kabupaten Magetan: Studi Nilai Simbolik dan Sumber Ketahanan Budaya, menyebutkan bahwa, sejarah terciptanya kesenian ledug tidak bisa dipisahkan dari Mamit Slamet. Pada tahun 2000, Mamit Slamet beserta rekan-rekannya merancang sebuah kesenian lokal yang mencerminkan jati diri masyarakat Magetan.
Mamit Slamet beserta rekan-rekannya berupaya memadukan suara lesung dan bedung sebagai komponen utama untuk mengiringi musik dan cerita-cerita orang jaman dulu. Guna menyempurnakan kualitas suaranya, mereka memainkan ledug bersama alat musik lainnya. Lalu, mengapa hanya lesung dan bedug yang dijadikan komponen utamanya, padahal kedua benda tersebut jelas mempunyai fungsi dan kegunaan yang jauh berbeda?
Nah, untuk menjawab pertanyaan tersebut perlu diketahui terlebih dahulu latar historis kedua alat ini berfungsi dan digunakan.
Perlu diketahui bahwa lesung merupakan alat penumbuk padi. Masyarakat jaman dulu menggunakan lesung untuk memisahkan kulit padi dengan butiran beras. Lesung terbuat dari kayu yang dibentuk seperti perahu. Lesung mempunyai ukuran kecil dengan panjang kira-kira 2 meter, lebar setengah setengah meter, dan dalam 40 cm. Sedangkan bedug merupakan alat musik tradisional yang digunakan untuk memberi tanda akan masuknya waktu sholat.
Dalam kehidupan masyarakat Magetan, lesung dan bedung memainkan peranan penting. Masyarakat Magetan yang mayoritas menganut agama Islam dan mempunyai mata pencaharian sebagai petani sangat akrab dengan kedua benda ini.
Untuk mengolah padi, para petani menggunakan alat penumbuk yang berupa kayu panjang dan lesung guna mengupas kulit padi supaya menjadi beras. Aktivitas menumbuk padi ini biasanya dilakukan oleh ibu-ibu saat dini hari sampai masuk waktu sholat subuh yang ditandai dengan suara bedug yang ditabuh. Aktivitas menumbuk padi ini menimbulkan suara bertalu-talu yang diiringi oleh cengkerama ibu-ibu penumbuk. Di samping itu, suara bedug yang ditabuh pertanda masuknya waktu sholat subuh menimbulkan suara-suara sahutan yang indah. Suara lesung dan bedug ini akan menghasilkan suara yang lebih indah apabila dipadukan dan diaransemen bersama alat musik lainnya. Hal inilah yang kemudian menginspirasi Mamit Slamet menciptakan kesenian ledug.
Ide Mamit Slamet untuk memadukan dan mengaransemen lesung dan bedug bersama alat musik lainnya ini dia utarakan kepada rekan-rekannya. Tanpa memakan waktu lama, rekan-rekan Mamit Slamet menerima idenya dengan baik. Kemudian, mereka mulai memadukan dan mengaransemen lesung dan bedug bersama alat musik lain. Upaya ini mendapat respon positif dari Pemerintah Kabupaten Magetan.
Sebagai bentuk apresiasi dari kreatifitas Mamit Slamet bersama rekan-rekannya, Pemerintah Kabupaten Magetan memberi kesempatan agar kesenian ledug dapat ditampilkan pada acara tahun baru Islam di panggung gembira masyarakat Kabupaten Magetan. Sejak saat inilah kesenian ledug dikenal banyak orang dan selalu menjadi penampilan utama dalam perayaan menyambut tahun baru Islam.
Makna Tradisi Ledug
Kehadiran kesenian ledug mengandung beberapa makna yang dapat dijadikan sebuah refleksi kehidupan. Menurut Muhammad Hanif, kesenian ledug mengandung pesan bahwa manusia dalam menjalani hidup dan kehidupan harus saling berhubungan dengan Tuhan. Hubungan manusia dengan Tuhan merupakan hubungan sebagai hamba yang mempunyai kewajiban beribadah kepada-Nya.
Dalam hal ini, ibadah mempunyai dua dimensi yaitu ibadah yang bersifat vertika (bedug) dan ibadah yang bersifat horizontal (lesung). Artinya apa, manusia sebagai makhluk individu mempunyai kewajiban beribadah kepada Tuhan, sedangkan manusia sebagai makhluk sosial selalu membutuhkan orang lain, di mana manusia harus menjalin interaksi, tolong menolong, gotong royong, dan saling menyayangi. Dengan demikian, hidup akan menjadi indah seindah suara lesung dan bedug dan alat musik lainnya yang ditabuh dengan penuh keharmonian.
Sebagai sebuah kesenian, ledug merupakan ekspresi dan artikulasi dari cipta, karsa dan karya yang dapat ditransformasikan sebagai milik dan kebanggaan bersama masyarakat Magetan. Kesadaran ini akan menumbuhkan kekuatan dan keteguhan dalam berinteraksi dengan budaya luar, sehingga menghindarkan ledug dari budaya asing yang membahayakan.
Mengingat dalamnya makna tradisi ledug ini, maka generasi muda hendaknya secara sadar mau merawat dan melestarikan tradisi ledug.

Post a Comment for "Tradisi Ledug di Magetan"
Post a Comment
Add your comment