Benteng Keraton Buton
Museum Rekor Indonesia (MURI) dan Guiness Book Record telah menetapkan Benteng Keraton Buton sebagai benteng terluas di dunia.
Awal Mula Pembangunan Benteng
Benteng Keraton Buton terletak di Kota Bau-Bau, Kabupaten Buton, Provinsi Sulawesi Tenggara. Benteng ini dibangun pada masa pemerintahan Sultan Buton ke-III yaitu La Sangaji yang memerintah pada tahun 1591-1597. Kemudian pada masa pemerintahan Sultan Buton ke-IV, yaitu La Elangi yang memerintah pada tahun 1597- 1631. Selanjutnya pada masa pemerintahan Sultan Buton ke-V, La Balawo yang memerintah pada tahun 1631-1632. Terakhir, disempurnakan pada masa pemerintahan Sultan Buton ke-VI, yaitu La Buke yang memerintah pada tahun 1632-1645.
Pembangunan Benteng Keraton Buton dilakukan atas bantuan Kolonial Belanda. Sebab, pada masa itu Kolonial Belanda menjalin hubungan baik dengan Kerajaan Buton. Hubungan ini didasarkan atas kepentingan ekonomi Kolonial Belanda. Letak Pulau Buton yang strategis, menyebabkan wilayah perairan Buton dijadikan sebagai pintu masuk Kolonial Belanda untuk mencari rempah-rempah di Maluku.
Benteng Keraton Buton disebut juga Benteng Wolio. Istilah Wolio berasal dari kata Welia yang berarti membabat atau menebang. Mengutip dari kebudayaan-kemendikbud.id, istilah tersebut dikaitkan dengan awal mula pembangunan benteng yang dimulai dengan penebangan pohon-pohon. Penebangan pohon tersebut bertujuan untuk membuka lahan yang kelak akan dibangun Benteng Keraton Buton.
Tujuan Pembangunan Benteng
Sebagaimana tujuan pembangunan benteng-benteng pada umumnya, tujuan pembangun Benteng Keraton Buton pun tidak jauh berbeda. Pada mulanya pembangunan ini dilakukan dengan tujuan untuk memberi tanda batas antara kompleks perumahan warga dengan kompleks keraton. Namun, seiring berjalannya waktu bangunan ini juga difungsikan sebagai benteng pertahanan Keraton Buton.
Sebagai fungsi pertahanan Keraton Buton dapat dibuktikan dari adanya meriam. Meriam ini terletak di setiap pintu masuk benteng. Di mana keberadaan meriam selalu dikaitkan sebagai senjata jika sewaktu-waktu ada musuh yang datang. Selain itu, bentuk tembok bangunan yang tebal menunjukkan bahwa benteng ini aman untuk dijadikan tempat perlindungan.
![]() |
| Meriam Kuno/kemendikbud.go.id |
Bagian-bagian Benteng Keraton Buton
Benteng Keraton Buton mempunyai luas bangunan mencapai 23,375 hektar. Tinggi bangunannya mencapai 1 hingga 8 meter, menyesuaikan rendah tingginya struktur tanah. Bangunannya dikelilingi oleh 12 pintu gerbang atau yang disebut dengan Lawa dalam bahasa masyarakat setempat.
Benteng Keraton Buton dilengkapi dengan 16 bastion atau baluara yang difungsikan sebagai tempat penjagaan. Dalam setiap bastion terdapat 4 sampai 6 meriam.
![]() |
| Salah satu bastion Benteng Keraton Buton/kemendikbud.go.id |
Dalam kompleks benteng terdapat bangunan masjid. Masjid ini telah berdiri sejak tahun 1538. Berdirinya masjid ini menandai proses Islamisasi yang terjadi dalam lingkungan keraton, yang kemudian melatarbelakangi terjadinya perubahan nama Keraton Buton menjadi Kesultanan Buton.
![]() |
| Masjid Agung/kemendikbud.go.id |
Sampai saat ini, kompleks Benteng Keraton Buton masih digunakan sebagai tempat tinggal oleh para tokoh masyarakat dan keluarga keturunan Kesultanan Buton. Mereka inilah yang sampai saat ini menjaga dan melestarikan warisan luhur nenek moyang.
| Batu Walio/kemendikbud.go.id |
Batu Wolio merupakan batu peninggalan Kerajaan Buton. Menurut cerita masyarakat setempat, batu ini adalah tempat dinobatkannya Putri Wakaka sebagai raja pertama di Kerajaan Buton.




Post a Comment for "Benteng Keraton Buton"
Post a Comment
Add your comment